Minggu, 18 November 2012

NAMA TOKOH SEJARAH KOLONIAL


WHO IS HE…???
 

1.    Pieter Both
2.   Jan Pieterszoon Coen
3.   Deandels
4.   Janssens
5.   Thomas Stamford Raffles
6.   Van Den Bosh
7.   Douwes Dekker
8.   Jhon Fendal
9.   Elout, Bouyskes, Van dercapeilen
10.  Boron, Van Hoevel, Frans Van de Putte


1. Pieter both (amersfoort 1568- mauritius 1615)
        Adalah seorang wakil VOC pertama di Hindia dan bisa dikatakan Gubernur-Jendral Hindia-Belanda. Dan di bawah pimpinannya VOC mulai menjalankan monopoli perdagangan dan perluasan wilayah penjajahan. Dia memerintah antara thn 1610-1614

2. Jan pieterszoon coen (hoorn, belanda 8 jan 1587- batavia 21 sep 1629)
        Gubernur-Jendral Hindia-Belanda ke-4. Pada masa jabatan pertama memerintah antara thn1619-1623, masa jabatan kedua berlangsung antara thn 1619-1629 dan menjadi Gubernur-Jendral ke-6. Dia diangkat menjadi Gubernur-Jendral pada umur 31thn pada tgl 18 april 1618. Akan tetapi baru pada 21 mei 1619 dia resmi memangku jabatan tersebut. Kemuduian pada thn 1623 ia menyerahkan kekuasaannya ke Pieter de Carpentier ia sendiri pulang ke Belanda.
 Oleh pimpinan Kompeni (VOC) ia disuruh kembali ke Hindia dan menjadi Gubernur-Jendral kembali, maka ia pun datang pada tahhun 627. Pada masa jabatan yang ke dua ia teruta ma berperang melawan Kesultanan Banten dan Mataram. Mataram menyerang Batavia dua kali, yaitu pada tahun 1628 dan 1629. Kedua-duanya gagal, tetapi Coen tewas secara mendadakpada tanggal 21 september 1629, empat hari setelah istrinya, Eva Ment, melahirkan seorang putrid yang juga meniggal.
 Terdapat dua versi tentang penyebab kematian Coen. Menurut versi belanda, Coen meniggal karena kolera yang kini lebih dikenal muntaber, yang disebarkan oleh pasukan Sultan Agung di sungai ciliwung. Sedangkan lainnya meyakini bahwa kematian Coen akibat serangan bala tentara Sultan Agung dari Mataram.

3. Daendels/ mr. Herman williem daendels (hattem, 21 0ct  1762-ghana, 2 mei 1818)
        Adalah seorang Politikus Belanda yang merupakan Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang ke-36. Memerintah antara thn 1808-1811. Pada masa itu Belanda sedang dikuaai Perancis. Di Indonesia dia mempunyai tugas mempertahankan pulau jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris. Daendels membuat kebijakan-kebijakan yang membuat rakyat menderita, Daendels juga berbuat sewenang-wenang dan tindakannya tersebut menimbulkan kebencian rakyat. Seperti tindakannya dalam pembuatan jalan anyer-panarukan dengan sistem wajib kerja yang menyebabkan ribuan rakyat meninggal dunia, sistem kerja paksa ini biasa di sebut kerja rodi. Kemudian memberlakukan aturan kepada rakyat untuk menyerahkan sebagian dari hasil bumi sebagai pajak (contingenten). Juga mendirikan pabrik senjata di Semarang & Surabaya.

4. Janssens/ jan williem janssens (nijmegen 12 okt 1762-den haag 23 mei 1838)
        Adalah seorang Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang ke-37. Dia adalah yang menggantikan Daendels, yang diangkat oleh Louis Napoleon. Diangkat pada tanggal 20 feb 1811. Tiba di Istana Bogor ( Buiten Zorg) pada thn 15 mei 1811.
        Ia memulai masa jabatannya dalam kondisi genting. Banyak prajurit tinggalan Daendels yang tidak cakap menjadi prajurit, sehingga ia mudah di kalahkan oleh inggris dan terpaksa menyerah pada tanggal 18 September 1811 kepada Thomas Stamford Rffles dalam Kapitulasi Tuntang.
        Karena masa jabatannya yang singkat ini, dapat dikatakan bahwa dia tidak meninggalkan apa-apa. Ia seolah-olah hanya ditugaskan untuk menjaga bendera Perancis yang berkibar di Hindia-Belanda selama enam bulan.



5. THOMAS STAMFORD RAFFLES ( 6 JULI 1781 – 5 JULI 1826)
        Pada tgl 19 okt 1811, ia memulai tugas sebagai letnan Gubernur dan berkedudukan di Batavia. Raffles melakukan perbaikan di Indonesia, antaralain:
·        Membagi pulau jawa menjadi 16 karesidenan
·        Membentuk badan pengadilan di setiap karesidenan
·        Menerapkan system sewa tanah / pajak tanah (landrente system)
·        Melarang perdagangan budak
·        Menjual tanah di Karawang, Priangan, Semarang, dan Surabaya pada swasta
·        Mengundang ahli-ahli luar negri untuk mengadakan penyelidikan.

Raffles tidak memerintah terlalu lama, sebab Inggris harus mengembalikan kekuasaannya di Indonesia kepada Belanda.
        Politik colonial Raffles berdasarkan asas-asas liberal. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan memberikan kebebasan. Pelaksanaan politik liberal ini gagal karena masih kuatnya struktur tradisional dan feudal yang masih berkembang di masyarakat Indonesia. Selian itu, juga di sebabkan oleh belum mengertinya rakyat Indonesia terhadap ekonomi uang dan sistem sewa-menyewa.

6. Van den bosh ( lingewal, 1 feb 1780 – den haag, 28 jan 1844)
Gubernur-Jendral Hindia-Belanda  ini dilantik thn 1830. Pada saat pemerintahannya ia meniru cara pemerintahan Daendel dan Raffles. Van Den Bosh mempunyai program kerja yang dikenal dengan nama Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel. Tujuannya untuk memperoleh pendapatan yang besar dengan mewajibkan menanam tanaman dagang yang laku di pasar eropa. Tujuan tersebut juga bertujuan memulihkan khas belanda yang terkuras karena perang yang terjadi di eropa.
Cultuurtelsel sebenarnya lebih tepat diterjemahkan sebagai Sistem Budi Daya Tanam. Penerjemahan Cultuurtelsel menjadi Sistem Tanam Paksa berasal dari penyimpangan yang muncul selama pelaksanaannya. Akibat penyimpangan yang muncul selama pelaksanaannya. Akibat penyimpangannya,kegiatan budi daya tanaman berubah menjadi kerja paksa menanam tanaman yang laku di jual di pasar eropa.

7. Douwes dekker danudirja setiabudi (pasuruan, jatim, 8 okt 1879- bandung, jabar 29 agst 1950)
        Adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia. Ia adalah salah seorang peletak dasar nasionalisme Indonessia diawal abad-20. Penulis yang kritis terhadap kebijakan pemerintah penjajahan Hindia-Belanda, wartawan, aktifis politik, seta penggagas nama “Nusantara” sebagai nama untuk Hindia-Belanda yang merdeka. Ia juga menulis buku berjudu Max Havelaar yang terbit pada thn 1860 isinya tentang keprihatinannya padda system tanam paksa yang diberlakukan oleh Van Den Bosh. Selepas sekolah DD pun bekerja di perkrbunan kopi  “Soember Doeren” di malang jawa timur. Disana ia menyaksikanperlakuan semena-mena yang dialami pekerja kebun, dan sering kali membela mereka. Setelah itu karena konflik pada pekerjaannya, diapun pindah ke perkebunan tebu namun dia di pecat karena lagi-lagi ada konflik antaranya dan menejernya.
        Karena menganggur, dan kematian ibunya yang mendadak, menbuat DD memutuskan berangkat ke Afrika Selatan pada tahun 1899 untuk ikut dalam Perang Boer Kedua melawan Inggris. Ia bahkan menjadi warga negara Republik Transval.
Dua seri artikel yang tajam dibuatnya pada tahun 1908. Seri pertama dimuat pada feb 1908 di surt kabar belanda Nieuwe Arnhemsche Courant setelah versi bahasa jermannya di muat dikoran jerman Das Freie
 Wort,”Het Bankroet Der Etischeprincipes Nederlandsch Oost-Indie” (“Kebangkrutanprinsip Etis Di Hindia Belanda”), sekitar tujuh bulan kemudian seri berikutnyapun muncul di surat kabar yang sama “ Hoe kan Holland het spoedigst zijn kolonien verliezen?” (“Bagaimana caranya belnda dapat segera kehilangan colonial-kolonialnuya?”)
8. Jhon fendal (london, 9 okt 1762 – kalkatua 10 nov 1825)
        Adalah orang yang menggantikan Raffles, karena Raffles tidak menyetujui perjanjian dan harus mennyerahkan Pulau Jawa kepada Belanda.

9. Mr. Elout, buyskes, dan van cappelen
        Adalah komisaris jendral Belanda yang mewakili Belanda saat penyerahan kekuasaan Inggris kepada Belanda.

10. Baron Van Hoevel & Frans Van de Putte( Baron Van Hoevel lahir di Deventer, Belanda, 15 juli 1812, dan meninggal di Den Haag, Belanda, 10 feb 1879)
        Penentang system tanam paksa. Frans Van de Putte menulis buku berjudul suiker contracten (kontrak-kontrak gula), kedudukan tokoh ini bekerja keras menghapus STP melalui parlemen Belanda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar